Erniybercerita's Blog

January 13, 2010

Dismotivation

Filed under: Let Me Through — erniybercerita @ 8:53 pm

Sesuatu hal yang sangat manusiawi ketika manusia merasakan kejenuhan. Saat dalam pikiran, jiwa dan raga bersatu untuk melakukan sesuatu. Memfokuskan semuanya pada satu hal. Ketika semangat untuk mengejar target dan berusaha mati-matian untuk mewujudkannya.

Lelah. Bahkan putus asa. Ketika sangat membutuhkan inspirasi, tetapi yang didapat hanyalah rasa kantuk. Kebingungan. Dan tidak fokus lagi. Memaksakan diri bukan jalan keluar. Karena yang didapat hanyalah hasil dari menunaikan kewajiban bukan mendapatkan kepuasan. Ada sesuatu dalam diri ketika target terwujud. Ada hasil yang nyata. Dan yang pasti sesuai dengan apa yang diharapkan. Perasaan bangga yang membuncah dalam diri itu pasti dialami. Senang. Lega. Dan puas.

Memikirkan itu membuat semuanya menjadi semangat lagi. Itulah motivasi. Tetapi bagaimana kalau membayangkan itu semua malah hanya membuat waktu tersita. Habis untuk berangan-angan. Dan parahnya kita terjun ke dalam mimpi kita sendiri dan tak kunjung tiba ke dalam realita. Akhirnya harus mengucapkan selamat tinggal pada target, tujuan dan impian.

Lalu apa yang harus dilakukan??

January 12, 2010

Love Need Criterion, Is That True?

Filed under: Just Story — erniybercerita @ 10:52 pm

Kehidupan nggak pernah lepas dari masalah cinta. Termasuk gue. Perkenalkan nama gue Dara. Mahasiswa semester 5 di sebuah Universitas Negeri di Jakarta. Ngomongin soal cinta emang nggak pernah habisnya. Dari manis-manisnya, dari masa flirting, pedekate, sakitnya cinta, pengorbanan. Ah banyak banget. Kayak yang sedang gue alamin ini.

Bisa dibilang gue punya kriteria khusus buat cowok yang akan gue jadiin pacar. Ada semacam penyaringan biar gue bisa ngedapetin seseorang yang pas buat gue, seseorang yang emang terbaik buat gue. Penyaringan itu susah. Gue mesti ekstra hati-hati dalam menyeleksi setiap calon pacar gue. Ya. Gue termasuk cewek dengan banyak pengagum. Bukannya sombong, tapi ini emang kenyataan. Gue bukan cewek populer di kampus gue. Tapi mungkin dari pembawaan gue yang gampang akrab sama orang yang bikin mereka penasaran sama gue. Dan pada akhirnya gue harus menyaring satu cowok yang bikin gue ngerasain seneng, jengkel, marah, berbunga-bunga jadi satu.

Namanya Arka. Cowok supel cenderung cerewet. Dia temen sekelas gue. Awalnya gue sama dia emang temenan. Dibilang temenan akrab, nggak juga. Tapi emang gue sering ngobrol dan kadang becandaan sama dia. Kepikiran buat naksir sama dia, nggak sama sekali! Dan akhirnya temen gue sering ngeledekin gue sama Arka. Dibilang cocok lah, serasi. Sebenarnya gue juga nggak mikirin itu semua. Bagi gue itu cuma kerjaan anak kecil aja. Gue yakin kalau gue cuekin pasti gosip nggak jelas itu bakal hilang sendiri. Tapi ternyata yang terjadi malah sebaliknya.

Tiba-tiba suatu hari Arka sms gue. Tanya lagi apa lah. Udah makan atau belum. Gue mikir tumben amat ini anak sms. Dan itu nggak terjadi satu kali. Tiap hari Arka sms gue tanya keadaan gue, gimana hari gue. Gue mulai mikir kalau ini anak pedekate sama gue. Selama ini pun gue juga anggep dia sebatas temen. Tapi karena gue tipikal orang yang witing tresna jalaran saka kulino sialnya gue jadi kepikiran ini anak terus.

Ya. Gue nanggepin smsnya. Tiap hari bahkan tiap waktu kapan pun dia sms pasti gue bales. Dan pernah sekali dia sms tanya tentang kriteria cowok gue. Saat itu sudah meyakinkan gue kalau emang ini anak lagi pedekate sama gue. Gue nggak memungkiri kalau gue seneng banget ditanyain kayak gitu.

When You Realized That You Feel Something Different With Your Best Friend

Filed under: Let Me Through — erniybercerita @ 10:13 pm

Saya pernah mengalaminya. Bukan sesuatu yang mudah ternyata. Tapi awalnya kita benar-benar merasa bahwa dia mungkin orang yang paling pas buat kita.

Bukan salah siapa-siapa jika kamu merasa ada sesuatu yang berbeda ketika kamu berdekatan dengan sahabat kamu sendiri (catat! sahabat yang berlawanan jenis dengan kamu- kalau sesama, maaf itu beda cerita). Tapi hal itu bisa menjadi sebuah kesalahan ketika perasaan itu membuat kamu menjauh dari dia and finally you have to say good bye with your friendship. It’s totally wrong! Tapi ada yang bilang. “Itu wajar. karena perasaan nggak pernah bisa bohong.” saya juga ngerti kaliiiiii. Tapi apa adil ketika kita sudah susah payah membuat persahabatan itu ada dan bisa bertahan untuk sekian lama. Dan semuanya hancur dalam waktu seketika.

Saya pernah membaca buku- saya lupa judulnya- tentang perbedaan antara cinta dengan pacar atau cinta dengan sahabat. Pasti kamu sering mendengar “Cinta Pada Pandangan Pertama”. Walaupun saya kurang setuju dengan kalimat itu. Itu bukan cinta tapi naksir. Tapi bukan itu yang mau saya bahas. Entah itu naksir, sayang atau bahkan cinta, diantara kita pasti pernah mengalaminya. Merasa kagum ketika melihat lawan jenis, merasa deg-degan. Itu hal biasa. Dan bahkan buat beberapa orang lebay bakal bilang. “Ya ampun kayaknya itu jodoh gue”. Mereka bilang saat pertama kali bertemu. Nama? Mereka pun belum tahu.

Bedanya dengan sahabat? Seumur hidup saya, belum pernah saya mendengar orang bilang “Niyh pasti bakal jadi sahabat gue!” ketika pertama kali ketemu sama orang. Persahabatan membutuhkan proses. Bahkan proses yang panjang. Proses itu gampang? Salah! Susah. Sulit. Melilit. Cekit-cekit. Cekit-cekit. Kalau dalam kasus saya, butuh banyak pengorbanan besar. Kadang saya harus menyakiti diri saya sendiri. Tapi ternyata hasil yang saya dapat jauh melebihi apa yang saya kira. Faithfulness. Confraternity. Confidence. Coziness. Togetherness. Familiarity. And………Love.

Itu satu hal yang membuat saya mengurungkan niat untuk membiarkan perasaan itu semakin dalam dan besar. Dan jika masih tetap merasakan perasaan yang lain itu kepada sahabat, apakah bisa disebut kalau persahabatan yang kita miliki tidak tulus?? Pertanyaan yang belum bisa saya jawab. Ada pro dan kontra untuk masalah ini.

Pertama yang saya bayangkan kalau berpacaran dengan sahabat. Bagaimana kalau kita nggak cocok sebagai pacar. Jadi sering berantem. Dan akhirnya putus. Putus. Persahabatan yang ada ikut terputus juga?? Membayangkan saja saya nggak bisa.

Bagi saya sahabat adalah hal yang sangat penting. Kasta mereka berada di bawah keluarga saya persis. Bahkan mereka hampir sejajar. Menemukan seorang sahabat sejati nggak semudah yang dibayangkan. Semuanya butuh proses. Lagi-lagi ada proses. Dan itu mengukuhkan saya untuk tetap menjadikan mereka sahabat dan berusaha menghilangkan perasaan itu. Masalah bisa atau tidak itu urusan gampang. Jika memang jodoh, pasti ada jalan lain untuk itu tanpa merusak persahabatan itu sendiri.

Dan akhirnya saya memang sangat menyayanginya. Sebagai teman. Bukan. Sahabat. Bukan. Saya menyayanginya sebagai saudara. Ya. We are Family.

January 9, 2010

There is No Reaction Without Action

Filed under: Just Story — erniybercerita @ 1:24 am

Manusia hanya bisa berencana dan Tuhan yang menentukan segalanya. Aldi hanya bisa merenungi kata demi kata yang ada dalam pikirannya. Di dalam otaknya banyak sekali hal-hal yang menakjubkan. Bukan hanya menakjubkan, tetapi brilian. Ya. Brilian. Sangat.

Tapi apa guna itu semua jika hanya berhenti di kepalanya tanpa ada realisasinya. Setiap hari Aldi berpikir bagaimana project barunya bisa berkembang sesuai dengan yang dia harapkan. Film. Aldi bercita-cita menjadi seorang sutradara. Hanya untuk film yang bermutu. Dia sudah mempunyai tim untuk merampungkan project besarnya ini. Satu kameramen, satu penulis skenario, dan dia sendiri sebagai sutradara sekaligus ide cerita. Tiga orang. Entah apa bisa disebut sebagai tim atau tidak. Tapi dia tidak peduli. Konsep sudah dipersiapkan secara matang. Dan apapun yang terjadi, dia akan tetap menyelesaikannya dan menjadikannya sebagai film independent terbaik yang pernah ada. Mimpi yang besar bukan?!

Dalam film ini dia menceritakan tentang sebuah kedewasaan di negaranya. Indonesia. Dia mencoba memperlihatkan sejauh mana negara yang sebenarnya sangat dia cinta menjadi negara yang mandiri, negara yang kuat dan tentu saja dewasa. Film yang akan dia buat menggunakan konsep semi dokumenter. Tetapi, dia tetap memberikan unsur fiktif di dalamnya. Dan dalam otaknya telah terbesit ide untuk sedikit memberikan sindiran sarkastik kepada negaranya. Secara keseluruhan.

Ide ini muncul saat dia sedang menikmati kopi hangatnya pada suatu pagi. Televisi dia nyalakan seperti biasanya. Dan dia pun memilih saluran berita. Pada awalnya dia acuh terhadap berita pertama mengenai korupsi. Baginya hal itu tidak akan ada habisnya. Berita yang akan terus ada. Tapi tetap tidak akan ada akhirnya. Pelaku yang dilupakan dan akhirnya berita berjenis sama dengan pelaku yang berbeda akan muncul tidak lama kemudian. Buang-buang waktu. Tetapi pada berita kedua, dia segera memusatkan perhatian pada televisi di depannya. Volume dibesarkan. Dan jika bisa dia akan memperbesar ukuran layar televisinya. Berita itu mengenai sepak bola. Bukan hasil akhir yang ingin dia tahu. Tapi mengenai sebuah cerita yang mewarnai pertandingan sepak bola negaranya melawan negara tetangga. Tetangga jauh.

“hah! Suporter masuk lapangan? Gila dia?” gumamnya sendiri.

Ya. Berita mengenai seorang suporter yang tiba-tiba masuk ke dalam lapangan ketika pertandingan masih berlangsung. Suporter yang merasa harus membantu tim kesayangannya untuk mencetak gol yang masih tertinggal dengan lawannya. Lalu polisi pun memasuki lapangan dan suporter itu dibekuk di tempat dan segera dibawa keluar lapangan. Dan apa hasil yang dia dapat? Tim kebanggaannya kalah karena ulah bocah yang terperangkap dalam tubuh seorang pria dewasa yang tiba-tiba mengambil alih pertandingan itu.

Setelah melihat berita itu, Aldi menyadari bahwa negara yang sekarang dia tempati saat ini bukan sebuah negara yang dewasa, bukan negara yang mempunyai jiwa yang besar. Cuma negara yang benar-benar masih membutuhkan bantuan ketika berdiri, membutuhkan usapan ketika mengeluarkan air mata. Makanya hatinya tergelitik untuk membuat sebuah film indie yang berisi tentang pandangannya mengenai kedewasaan sebuah negara. Terdengar berat. Tapi di dalam otaknya sudah ada ide-ide brilian yang membuat tema berat itu menjadi ringan saat menontonnya.

Segera dia menghubungi Jono, teman SMAnya. Dia ingat Jono mempunyai bakat luar biasa dengan kamera. Konon, pertama kali Jono memegang kamera, dia sudah mendapat angle yang baik di setiap gambar yang dia hasilkan. Kemampuannya sudah tidak diragukan lagi. Masalah kameramen, beres! Tapi Aldi bukan seorang penulis. Dia kebingungan bagaimana menyalurkan idenya. Membuat kalimat adalah satu hal yang akan dia hindari dalam hidupnya. Lalu dia teringat dengan Anis. Salah seorang tetangganya semasa masih tinggal di Bandung. Dia ingat Anis pernah mendapat piala karena keberhasilannya menyabet juara pertama dalam membuat sebuah karya tulis saat sekolah di Sekolah Dasar. Yang penting dia bisa menulis. Itu yang dipikirkan Aldi. Tapi setelah pindah ke Solo, dia sudah tidak pernah berkomunikasi dengan Anis lagi. Nomor telepon, dia tidak pernah tahu. Lama berpikir bagaimana cara menghubungi Anis, Aldi memutuskan untuk ke Bandung mencari Anis.

Sebelumnya Aldi menghubungi Jono untuk meminta kepastiannya.
“Oke! Aku ikut, Al.” jawab Jono memberi kepastian.
“Sip!Besok kita berangkat ke Bandung. Aku udah beli tiket buat kita berdua.”

Pukul 8 pagi, Aldi dan Jono sudah siap di dalam kereta yang akan membawa mereka ke Bandung. Bekal sudah mereka siapkan. Nasi oseng dengan telur serta tempe tertata rapi di dalam kotak makanan mereka. Tidak lupa alamat rumah Anis yang Aldi dapat dari Ibunya.

Jam 6 sore mereka sudah sampai di Stasiun. Tanpa berlama-lama mereka mencari angkot dan mulai menyusuri kota Bandung. Dengan bermodalkan alamat yang tertulis di kertas kecil yang tidak pernah lepas dari genggaman Aldi dan ingatan yang mulai kabur mengenai Bandung, mereka mengitari Bandung. Sesekali bertanya pada penduduk setempat. Pukul 8 malam mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak. Mereka memilih sebuah warung makan sederhana yang terdapat di pinggir jalan besar. Minum kopi dan makan seadanya. Merasa lebih baikan, mereka melanjutkan perjalanan mencari alamat rumah Anis. Setelah berputar-putar mereka berhasil menemukan rumah Anis. Aldi tiba-tiba teringat dengan masa kecilnya ketika dia sering bermain ke sini. Mengganggu gadis kecil itu. Tetapi, jam sudah menunjukkan pukul 22.30. Tidak mungkin Aldi berkunjung malam-malam begini. Tidak sopan. Mereka memutuskan untuk menunggu hingga pagi tiba. Tiduran di sebuah bangku di depan rumah Anis menjadi pilihannya.

Keesokan paginya mereka terbangun karena suara bisik-bisik yang mereka dengar di sela mimpi-mimpi mereka. Ketika membuka mata, di depan mereka sudah ada orang-orang yang berkumpul mengelilingi mereka. Dan tiba-tiba terdengar suara teriakan dari rumah Anis.

“Heh! Ada apa niyh ngumpul di depan?” teriak seorang wanita berusia sekitar 50 tahun-an. Wanita itu berjalan menghampiri keramaian yang ada di depan rumahnya. Aldi dan Jono sontak berdiri dan merapikan pakaian dan penampilan ala kadarnya.

“Eleh eleh kalian teh saha?” tanya wanita itu pada Aldi dan Jono. Kerumunan mulai berkurang satu per satu.

“Ibu…” kata Ald sembari menyalami tangan wanita itu. Si wanita yang kaget langsung melepas genggaman tangan Aldi.

“Eh enak saja. Saya teh bukan Ibu kamu!” bentak wanita itu sambil menjauh dari Aldi.

“Ibu nggak ingat saya? Saya Aldi, Bu. Temen Anis waktu kecil. Yang sering main ke sini. Inget kan, Bu?” tanya Aldi.

“Sebentar.” Ibu itu berpikir sejenak sambil bergumam melafalkan nama Aldi. “Aldi yang sering mecahin kaca rumah?” tanya ibu itu kepada Aldi memastikan.

October 2, 2009

apa yah??

Filed under: Uncategorized — erniybercerita @ 3:20 pm

Ehem ehem

Sepertinya Erniy baru bercerita hari ini. Aku pgn berbagi cerita ttg aku beberapa hari trakhir ini.

Aku yakin setiap orang punya impian di dalam hidupnya. Termasuk aku. Tapi yang cukup mengganjal hatiku saat ini. Ada satu pertanyaan yang salalu ada di dalam kepalaku. Akan aku bawa kemana impianku?

Wah pertanyaan yang sulit bukan? Selama ini aku cari terus jawabannya. Tapi nihil. Aku gak nemuin apa-apa. Kosong.

May 31, 2009

Hello world!

Filed under: Uncategorized — erniybercerita @ 3:54 am

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Theme: Banana Smoothie. Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.