Manusia hanya bisa berencana dan Tuhan yang menentukan segalanya. Aldi hanya bisa merenungi kata demi kata yang ada dalam pikirannya. Di dalam otaknya banyak sekali hal-hal yang menakjubkan. Bukan hanya menakjubkan, tetapi brilian. Ya. Brilian. Sangat.
Tapi apa guna itu semua jika hanya berhenti di kepalanya tanpa ada realisasinya. Setiap hari Aldi berpikir bagaimana project barunya bisa berkembang sesuai dengan yang dia harapkan. Film. Aldi bercita-cita menjadi seorang sutradara. Hanya untuk film yang bermutu. Dia sudah mempunyai tim untuk merampungkan project besarnya ini. Satu kameramen, satu penulis skenario, dan dia sendiri sebagai sutradara sekaligus ide cerita. Tiga orang. Entah apa bisa disebut sebagai tim atau tidak. Tapi dia tidak peduli. Konsep sudah dipersiapkan secara matang. Dan apapun yang terjadi, dia akan tetap menyelesaikannya dan menjadikannya sebagai film independent terbaik yang pernah ada. Mimpi yang besar bukan?!
Dalam film ini dia menceritakan tentang sebuah kedewasaan di negaranya. Indonesia. Dia mencoba memperlihatkan sejauh mana negara yang sebenarnya sangat dia cinta menjadi negara yang mandiri, negara yang kuat dan tentu saja dewasa. Film yang akan dia buat menggunakan konsep semi dokumenter. Tetapi, dia tetap memberikan unsur fiktif di dalamnya. Dan dalam otaknya telah terbesit ide untuk sedikit memberikan sindiran sarkastik kepada negaranya. Secara keseluruhan.
Ide ini muncul saat dia sedang menikmati kopi hangatnya pada suatu pagi. Televisi dia nyalakan seperti biasanya. Dan dia pun memilih saluran berita. Pada awalnya dia acuh terhadap berita pertama mengenai korupsi. Baginya hal itu tidak akan ada habisnya. Berita yang akan terus ada. Tapi tetap tidak akan ada akhirnya. Pelaku yang dilupakan dan akhirnya berita berjenis sama dengan pelaku yang berbeda akan muncul tidak lama kemudian. Buang-buang waktu. Tetapi pada berita kedua, dia segera memusatkan perhatian pada televisi di depannya. Volume dibesarkan. Dan jika bisa dia akan memperbesar ukuran layar televisinya. Berita itu mengenai sepak bola. Bukan hasil akhir yang ingin dia tahu. Tapi mengenai sebuah cerita yang mewarnai pertandingan sepak bola negaranya melawan negara tetangga. Tetangga jauh.
“hah! Suporter masuk lapangan? Gila dia?” gumamnya sendiri.
Ya. Berita mengenai seorang suporter yang tiba-tiba masuk ke dalam lapangan ketika pertandingan masih berlangsung. Suporter yang merasa harus membantu tim kesayangannya untuk mencetak gol yang masih tertinggal dengan lawannya. Lalu polisi pun memasuki lapangan dan suporter itu dibekuk di tempat dan segera dibawa keluar lapangan. Dan apa hasil yang dia dapat? Tim kebanggaannya kalah karena ulah bocah yang terperangkap dalam tubuh seorang pria dewasa yang tiba-tiba mengambil alih pertandingan itu.
Setelah melihat berita itu, Aldi menyadari bahwa negara yang sekarang dia tempati saat ini bukan sebuah negara yang dewasa, bukan negara yang mempunyai jiwa yang besar. Cuma negara yang benar-benar masih membutuhkan bantuan ketika berdiri, membutuhkan usapan ketika mengeluarkan air mata. Makanya hatinya tergelitik untuk membuat sebuah film indie yang berisi tentang pandangannya mengenai kedewasaan sebuah negara. Terdengar berat. Tapi di dalam otaknya sudah ada ide-ide brilian yang membuat tema berat itu menjadi ringan saat menontonnya.
Segera dia menghubungi Jono, teman SMAnya. Dia ingat Jono mempunyai bakat luar biasa dengan kamera. Konon, pertama kali Jono memegang kamera, dia sudah mendapat angle yang baik di setiap gambar yang dia hasilkan. Kemampuannya sudah tidak diragukan lagi. Masalah kameramen, beres! Tapi Aldi bukan seorang penulis. Dia kebingungan bagaimana menyalurkan idenya. Membuat kalimat adalah satu hal yang akan dia hindari dalam hidupnya. Lalu dia teringat dengan Anis. Salah seorang tetangganya semasa masih tinggal di Bandung. Dia ingat Anis pernah mendapat piala karena keberhasilannya menyabet juara pertama dalam membuat sebuah karya tulis saat sekolah di Sekolah Dasar. Yang penting dia bisa menulis. Itu yang dipikirkan Aldi. Tapi setelah pindah ke Solo, dia sudah tidak pernah berkomunikasi dengan Anis lagi. Nomor telepon, dia tidak pernah tahu. Lama berpikir bagaimana cara menghubungi Anis, Aldi memutuskan untuk ke Bandung mencari Anis.
Sebelumnya Aldi menghubungi Jono untuk meminta kepastiannya.
“Oke! Aku ikut, Al.” jawab Jono memberi kepastian.
“Sip!Besok kita berangkat ke Bandung. Aku udah beli tiket buat kita berdua.”
Pukul 8 pagi, Aldi dan Jono sudah siap di dalam kereta yang akan membawa mereka ke Bandung. Bekal sudah mereka siapkan. Nasi oseng dengan telur serta tempe tertata rapi di dalam kotak makanan mereka. Tidak lupa alamat rumah Anis yang Aldi dapat dari Ibunya.
Jam 6 sore mereka sudah sampai di Stasiun. Tanpa berlama-lama mereka mencari angkot dan mulai menyusuri kota Bandung. Dengan bermodalkan alamat yang tertulis di kertas kecil yang tidak pernah lepas dari genggaman Aldi dan ingatan yang mulai kabur mengenai Bandung, mereka mengitari Bandung. Sesekali bertanya pada penduduk setempat. Pukul 8 malam mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak. Mereka memilih sebuah warung makan sederhana yang terdapat di pinggir jalan besar. Minum kopi dan makan seadanya. Merasa lebih baikan, mereka melanjutkan perjalanan mencari alamat rumah Anis. Setelah berputar-putar mereka berhasil menemukan rumah Anis. Aldi tiba-tiba teringat dengan masa kecilnya ketika dia sering bermain ke sini. Mengganggu gadis kecil itu. Tetapi, jam sudah menunjukkan pukul 22.30. Tidak mungkin Aldi berkunjung malam-malam begini. Tidak sopan. Mereka memutuskan untuk menunggu hingga pagi tiba. Tiduran di sebuah bangku di depan rumah Anis menjadi pilihannya.
Keesokan paginya mereka terbangun karena suara bisik-bisik yang mereka dengar di sela mimpi-mimpi mereka. Ketika membuka mata, di depan mereka sudah ada orang-orang yang berkumpul mengelilingi mereka. Dan tiba-tiba terdengar suara teriakan dari rumah Anis.
“Heh! Ada apa niyh ngumpul di depan?” teriak seorang wanita berusia sekitar 50 tahun-an. Wanita itu berjalan menghampiri keramaian yang ada di depan rumahnya. Aldi dan Jono sontak berdiri dan merapikan pakaian dan penampilan ala kadarnya.
“Eleh eleh kalian teh saha?” tanya wanita itu pada Aldi dan Jono. Kerumunan mulai berkurang satu per satu.
“Ibu…” kata Ald sembari menyalami tangan wanita itu. Si wanita yang kaget langsung melepas genggaman tangan Aldi.
“Eh enak saja. Saya teh bukan Ibu kamu!” bentak wanita itu sambil menjauh dari Aldi.
“Ibu nggak ingat saya? Saya Aldi, Bu. Temen Anis waktu kecil. Yang sering main ke sini. Inget kan, Bu?” tanya Aldi.
“Sebentar.” Ibu itu berpikir sejenak sambil bergumam melafalkan nama Aldi. “Aldi yang sering mecahin kaca rumah?” tanya ibu itu kepada Aldi memastikan.